Perjalanan Kasus Ketum PA 212: Orasi di Tablig Akbar Berujung Tersangka - Berita Terkini | Kabar Terbaru Hari Ini, Viral, Politik, Indonesia, Dunia | BERITATERKINI.co

11 Februari 2019

Perjalanan Kasus Ketum PA 212: Orasi di Tablig Akbar Berujung Tersangka

Perjalanan Kasus Ketum PA 212: Orasi di Tablig Akbar Berujung Tersangka

Berita Terkini - Ketua Umum Persaudaraan Alumni (PA) 212 Slamet Ma'arif kini berstatus sebagai tersangka. Dia ditetapkan menjadi tersangka oleh Polres Surakarta terkait kasus dugaan pelanggaran Pemilu di acara Tablig Akbar PA 212 di Solo Raya.

"Betul kami panggil sebagai tersangka," kata Kapolres Surakarta Kombes Ribut Hari Wibowo, saat dikonfirmasi detikcom, Minggu (10/2/2019).

Merespons penetapan tersangka Slamet Ma'arif, Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno akan memberikan pendampingan. Pihak BPN menilai penetapan tersangka ini janggal.

"Kami pastikan tidak akan biarkan Ustaz Slamet sendirian menghadapi masalah ini. Kami akan fight habis-habisan menempuh langkah hukum agar beliau bisa terlepas dari masalah hukum ini," tutur juru bicara Direktorat Advokasi BPN Prabowo-Sandiaga Uno, Habiburokhman, kepada detikcom, Senin (11/2).

Bagaimana mulanya sehingga Slamet Ma'arif jadi tersangka?

Tablig Akbar Tak Berizin di Solo

PA 212 menggelar Tablig Akbar di Gladag, Solo, Jawa Tengah, pada 13 Januari 2019. Namun panitia acara itu tak meminta izin ke pihak kepolisian. Panitia hanya menyampaikan surat pemberitahuan.

Humas Panitia Tablig Akbar, Endro Sudarsono, mengatakan alasannya hanya memberikan surat pemberitahuan, bukan mengajukan surat izin. Menurut pihaknya, acara mereka sekadar penyampaian pendapat di muka umum.

"Dasarnya kan kita menyampaikan pendapat di muka umum, jadi tidak perlu izin, hanya pemberitahuan," kata dia.

Polisi berkata lain. Menurut polisi, perizinan harus dilakukan karena terkait penggunaan jalan di luar fungsinya. Apalagi, acara tablig akbar tersebut diperkirakan akan dihadiri ribuan orang.

"Dalam UU nomor 22 tahun 2009 tentang lalu lintas dan Peraturan Kapolri nomor 10 tahun 2012 tentang penggunaan jalan di luar fungsinya. Jadi semua kegiatan di jalan harus ada izinnya," terang Wakapolresta Solo AKBP Andy Rifai.

Polisi sebenarnya sudah menyarankan kegiatan itu dilaksanakan di masjid karena bersifat keagamaan. Tetapi panitia tetap menggelar di jalan umum, sehingga polisi tetap memberikan pengamanan meski belum keluarkan izin.

"Acara Tablig Akbar PA 212 di Solo sudah kita sarankan untuk di Masjid Agung kalau itu kegiatan agama, jangan di Gladag, Jalan Slamet Riyadi karena jalan umum. Mereka berpendapat bahwa kegiatan mereka giat agama sehingga tidak perlu izin, cukup pemberitahuan, sudah kita jelaskan bahwa kalau akan dilaksanakan di jalan umum harus ada rekomendasi atau izin dari dishub solo, tapi mereka tidak mengurusnya," jelas Kapolda Jawa Tengah Irjen Condro Kirono, Senin (14/1).

Tablig Akbar itu akhirnya tetap dilaksanakan sesuai rencana. Sejumlah tokoh hadir, termasuk Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais. Sementara itu Koordinator Jubir BPN Prabowo-Sandiaga, Dahnil Anzar Simanjuntak batal hadir.


Peringatan Bawaslu

Dua hari sebelum acara, Bawaslu Jawa Tengah sempat mengingatkan akan menindak jika acara yang bersifat keagamaan itu bermuatan kampanye. Bawaslu Jateng juga mengingatkan, jika bermaksud kampanye, maka sekalian saja mengurus perizinannya.

"Dari informasi dan perizinan bukan kegiatan kampanye. Ya harapan kami panitia menjamin tidak ada kegiatan kampanye," kata Ketua Bawaslu Jateng, Fajar Subhki, di kantornya Semarang, Jumat (11/1).

"Namun jika ternyata ada unsur kampanye, maka akan ditindak," tegas dia.


Slamet Ma'arif Berorasi di Tablig Akbar

Sebagai Ketum PA 212, Slamet Ma'arif turut berorasi pada acara tersebut. Usai acara, Slamet Ma'arif dianggap mengampanyekan Prabowo-Sandi di acara tersebut. Namun Slamet menegaskan dirinya tak menyebut angka.

"Saya nggak sebut angka, kok," kata Slamet saat dikonfirmasi, Senin (14/1).


Slamet Ma'arif Dilaporkan ke Bawaslu

Tim Kampanye Daerah (TKD) Jokowi-Amin Surakarta melaporkan Ketua Persaudaraan Alumni (PA) 212 Slamet Ma'arif ke Bawaslu. Dia dinilai bertanggung jawab atas acara yang dinilai bermuatan kampanye terselubung.

"Kami mendapatkan laporan ada ajakan-ajakan terkait kampanye, ada teriakan ganti presiden, kaus ganti presiden. Bahkan ada yang lebih substantif, yaitu ajakan mencoblos," kata Ketua TKD Jokowi-Ma'ruf Surakarta, Her Suprabu di kantor Bawaslu Surakarta, Senin (14/1).

Pihak panitia kemudian mempertanyakan mengapa acara mereka dianggap kampanye. Menurut pemahaman dia, acara dianggap kampanye jika dilakukan oleh tim kampanye.

"Kampanye menurut deskripsi UU nomor 7 tahun 2017 itu harus jelas penyelenggaranya, memang partai politik, dan pasti memakai surat tanda terima penerimaan laporan. Kemarin kan jelas penanggung jawabnya PA 212 Solo Raya. Jadi pasti bukan tim kampanye," kata tim advokasi panitia saat dihubungi detikcom, Senin (14/1).


Slamet Ma'arif Menegaskan Akan Kooperatif

Slamet Ma'arif, sebagai pihak yang dilaporkan, memberikan respons atas laporan itu ketika dikonfirmasi. Ia memastikan akan bersikap kooperatif.

"Kita tunggu saja Bawaslu nanti. Saya akan kooperatif jika dibutuhkan keterangan oleh Bawaslu," ujar Slamet saat dimintai konfirmasi, Senin (14/1).


Polisi Menyebut Ada Unsur Kampanye

Kapolda Jateng, Irjen (Pol) Condro Kirono, menyebut sejumlah catatan dari pelaksanaan tabligh akbar Persaudaraan Alumni (PA) 212 Solo Raya. Menurutnya, selain tak berizin, ternyata jumlah ada ajakan mencoblos no urut 02.

"Karena tidak ada izin maka giat mereka juga kita batasi dan kita sekat di beberapa titik. Dan memang betul ternyata saat pelaksanaan bukan mengajak kebaikan tetapi malah mengajak massanya untuk coblos nomor 02 dan menebar kebencian dan permusuhan," kata Condro, Senin (14/2).


Bawaslu Panggil Slamet Ma'arif

Bawaslu Surakarta kemudian melayangkan panggilan kepada Ketum PA 212 Slamet Ma'arif. Pemanggilan dilakukan terkait dugaan pelanggaran kampanye.

"Kami undang ke sini untuk klarifikasi pada 22 Januari 2019 nanti. Tapi suratnya sudah kami kirim hari ini. Besok kemungkinan sampai," kata Komisioner Divisi Penindakan dan Pelanggaran Bawaslu Surakarta, Poppy Kusuma di kantor Bawaslu Surakarta, Rabu (16/1).


Slamet Ma'arif Penuhi Panggilan Bawaslu

Ketum PA 212 Slamet Ma'arif memenuhi panggilan Bawaslu sesuai hari yang dijadwalkan. Dia dikawal massa saat memenuhi panggilan itu pada Selasa (22/1).

Slamet Ma'arif diperiksa selama 3 jam. Dia dicecar 65 pertanyaan.

"Setelah saya mendengarkan pengertian kampanye, kesimpulannya bahwa apa yang saya sampaikan di acara tablig akbar 13 Januari, sama sekali tidak ada unsur kampanye, karena saya bukan peserta pemilu," ujar dia kepada wartawan usai pemeriksaan.

Slamet mengaku tak menyebutkan nomor urut, citra diri, hingga visi misi.


Mengaku Baru Tahu Masuk BPN Prabowo-Sandiaga

Setelah mengaku bukan peserta Pemilu, Slamet juga mengaku baru tahu jika dirinya terdaftar dalam struktur BPN Prabowo-Sandiaga. Dia baru tahu dirinya menjabat sebagai Wakil Ketua BPN Prabowo-Sandiaga.

"Saya tahu saya bagian dari BPN baru dari media. Saya sampai sekarang belum menerima SK dari BPN," kata Slamet kepada wartawan usai mengikuti pemeriksaan di kantor Bawaslu Surakarta, Selasa (22/1).

Sementara itu menurut dokumen yang disetorkan BPN ke KPU, nama Slamet sudah tercantum sejak September 2018. Dia juga pernah mengenakan jaket BPN Prabowo-Sandiaga yang berwarna dominan putih dengan logo partai-partai pengusung-pendukung.


Bawaslu Serahkan Kasus ke Polisi

Tim Penegakan Hukum Terpadu (Gakkumdu) menyimpulkan adanya unsur pelanggaran yang dilakukan Ketua Persaudaraan Alumni (PA) 212, Slamet Ma'arif. Bawaslu Surakarta akan meneruskan kasus tersebut ke kepolisian.

"Ada bukti permulaan yang cukup adanya dugaan pelanggaran tindak pidana pemilu," kata Komisioner Divisi Penindakan Pelanggaran Bawaslu Surakarta, Poppy Kusuma, usai rapat bersama Gakkumdu, Kamis (29/1).

Bawaslu Surakarta menyerahkan laporan dugaan pelanggaran kampanye itu ke Mapolresta Surakarta pada 1 Februari 2019. Ada 13 poin yang dilaporkan.


Slamet Ma'arif Diperiksa Polisi, Amien Rais Menemani

Ketum PA 212 Slamet Ma'arif memenuhi panggilan polisi pada 7 Februari 2019. Dia kembali diantar massa saat datang. Dalam pemanggilan ini, Slamet masih berstatus sebagai saksi.

Salah satu tokoh yang menemani Slamet untuk datang ke kantor polisi adalah Amien Rais. Amien sebetulnya juga berorasi ketika acara Tablig Akbar.

Di sela pemeriksaan waktu itu, Slamet tersenyum seraya berpose dnegan jari jempol dan telunjuk. Pose menggunakan dua jari ini identik dengan pendukung Prabowo-Sandiaga di Pilpres 2019.


Jadi Tersangka dan Akan Dipanggil Polisi

Polisi telah menetapkan Slamet Ma'arif sebagai tersangka kasus dugaan pelanggaran Pemilu. Dia akan segera dipanggil kembali oleh polisi, namun kini sebagai tersangka.

"Hari Rabu nanti (pemeriksaan). Panggilan sudah kita kirimkan kepada Ustaz Slamet Ma'arif untuk dilakukan pemeriksaan," kata Kapolresta Surakarta, Kombes Pol Ribut Hari Wibowo kepada wartawan di Mapolresta Surakarta, Senin (11/2).

Slamet lantas menanggapi penetapan status tersangka atas dirinya. Menurutnya keputusan ini memalukan.

"Memilukan dan memalukan hukum di Indonesia, ketidakadilan hukum terpampang jelas dan gamblang di negeri ini," kata Slamet kepada wartawan, Senin (11/2).


Bukan di Solo, Slamet Akan Diperiksa di Polda Jawa Tengah

Slamet Ma'arif akan diperiksa sebagai tersangka dua hari lagi. Namun dia bukan akan diperiksa di Mapolresta Solo, melainkan di Polda Jawa Tengah.

"Kita pertimbangkan alasan keamanan," kata Wakapolresta Surakarta, AKBP Andy Rifai kepada wartawan di Mapolresta Surakarta, Senin (11/2).

Meskipun lokasi pemeriksaan di Polda Jateng, kasus masih ditangani oleh Polresta Surakarta. Sedangkan persidangan nanti belum ditentukan lokasinya. [dtk]




Loading...

Berita Lainnya

loading...

Berita Terkini

© Copyright 2019 BERITATERKINI.co | All Right Reserved