Kalahkan Jakarta dan Surabaya, Bandung Kota Termacet di Indonesia - Berita Terkini | Kabar Terbaru Hari Ini, Viral, Politik, Indonesia, Dunia | BERITATERKINI.co

7 Oktober 2019

Kalahkan Jakarta dan Surabaya, Bandung Kota Termacet di Indonesia

Kalahkan Jakarta dan Surabaya, Bandung Kota Termacet di Indonesia

Kalahkan Jakarta dan Surabaya, Bandung Kota Termacet di Indonesia
BERITA TERKINI - Kota Bandung tercatat di peringkat ke-14 dari kota termacet di Asia versi Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB). Hal itu membuat Kota Bandung menjadi kota termacet pertama di Indonesia, disusul Jakarta dan Surabaya.

ADB baru saja merilis Update of the Asian Development Outlook edisi September 2019. Dalam laporan itu, terungkap kota yang paling macet di antara 45 negara anggota ADB.

Ada 278 kota yang diteliti. Rata-rata kemacetan seluruh kota 1,24, yang artinya diperlukan waktu 24% lebih banyak untuk melakukan perjalanan di jam sibuk daripada di jam sibuk. Kemacetan bisa lebih parah di kota-kota besar. Kemacetan rata-rata mencapai 1,51 untuk 24 kota terbesar dengan populasi di atas 5 juta.

Kota Bandung berada di posisi ke-14 dari 24 kota sampel dengan populasi lebih dari 5 juta penduduk. Kemacetan di Bandung lebih parah dibandingkan Jakarta yang berada di posisi ke-17 dan Surabaya ke-20.

Berikut 24 kota termacet:

1. Manila
2. Kuala Lumpur
3. Yangon
4. Dhaka
5. Bengaluru
6. Hanoi
7. Kolkata
8. Delhi
9. Pune
10. Ho Chi Minh
11. Jaipur
12. Bangkok
13. Hyderabad
14. Bandung
15. Mumbai
16. Chennai
17. Jakarta
18. Singapura
19. Karachi
20. Surabaya
21. Hongkong, China
22. Ahmedabad
23. Lahore
24. Taipei, China

Studi ini mengukur ongkos kemacetan dengan memfokuskan pada waktu yang hilang dalam perjalanan seseorang. Kemudian biaya operasional kendaraan dan juga tingkat polusi udara. Informasi tambahan juga dikumpulkan melalui data perjalanan yang diproyeksikan Google Maps.

ADB sendiri memberikan solusi untuk mengatasi kemacetan tersebut dengan menggenjot investasi dalam pembangunan infrastruktur transportasi publik dan sistem transportasi multimoda. Walaupun jangka waktunya panjang, ADB menilai ada banyak manfaat dari kebijakan itu seperti teratasinya polusi udara. [dt]




Loading...
loading...

Berita Lainnya

Berita Terkini

© Copyright 2019 BERITATERKINI.co | All Right Reserved