Eropa dan Malaysia Lockdown, Jokowi Tunggu Pasien Banyak? - Berita Terkini | Kabar Terbaru Hari Ini, Viral, Politik, Indonesia, Dunia | BERITATERKINI.co

17 Maret 2020

Eropa dan Malaysia Lockdown, Jokowi Tunggu Pasien Banyak?

Eropa dan Malaysia Lockdown, Jokowi Tunggu Pasien Banyak?

BERITA TERKINI - Eropa berencana untuk menutup perbatasannya ke seluruh dunia selama sebulan. Kebijakan lockdown ini merupakan respon terhadap pandemi virus Corona atau Covid-19 yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Kebijakan lockdown Uni Eropa membutuhkan persetujuan tentatif dari semua negara anggota pada hari Selasa (17/3/2020).

Dengan adanya kebihakan lockdown, warga negara non-Uni Eropa akan dilarang memasuki wilayah perbatasan Schengen selama 30 hari.

Langkah ini dilakukan karena wabah virus Corona tidak menunjukkan tanda-tanda melambat di seluruh benua.

South China Morning Post melaporkan pada Selasa (17/3), Prancis, Jerman, dan Inggris telah meningkatkan pembatasan kegiatan sosial.

Sedangkan Perancis diperkirakan akan melakukan lockdown selama 15 hari mulai Selasa (17/3).

Italia, negara yang paling terpukul kedua setelah Cina, mengatakan mereka membutuhkan rencana rekonstruksi setelah Corona mewabah di negara itu.

Wilayah Schengen yang mencakup 26 negara Eropa telah menyetujui lockdown, kecuali Inggris dan Irlandia. Kedua negara ini belum mengumumkan rencana untuk memblokir akses dari luar.

Di bawah larangan yang diusulkan UE, pengecualian akan diberikan kepada pelancong yang bekerja di bidang medis atau ilmiah terkait pandemi coronavirus.

“Langkah ini dirancang untuk menghindari lebih banyak tekanan pada sistem perawatan kesehatan kita,” kata presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen.

Malaysia Lockdown

Selain Eropa, Malaysia juga memutuskan untuk mengunci akses seantero Negeri Jiran. Keputusan itu diambil karena melonjaknya jumlah kasus Virus Corona COVID-19.

Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin dalam pidato pada Senin (16/3) malam, mengatakan, pemerintah akan menerapkan Perintah Kontrol Gerakan selama lockdown yang dimulai pada 18 Maret hingga 31 Maret 2020.

Keputusan Muhyiddin seiring dengan meningkatnya jumlah kasus positif Virus Corona di Malaysia yang mencapai 553. Jumlah itu merupakan kasus positif COVID-19 tertinggi di Asia Tenggara.

Malaysia melaporkan 125 kasus baru pada Senin, 95 di antaranya terkait dengan acara tabligh akbar yang diadakan pada Februari, menurut kementerian kesehatan, menyusul lonjakan 190 kasus selama akhir pekan.

Acara tabligh akbar itu dihadiri sekitar 16.000 dari 27 Februari hingga 1 Maret. Dari 14.500 warga Malaysia yang hadir, hanya 7.000 yang melakukan tes Virus Corona.

Sejauh ini, total 42 pasien Virus Corona di Malaysia telah sepenuhnya pulih dari Virus Corona dan telah dipulangkan. Sementara 511 masih di rumah sakit, 12 di antaranya masih dalam perawatan intensif.

Jokowi Tak Berpikir Lockdown

Presiden Jokowi menegaskan, sampai saat ini pemerintah Indonesia tidak berpikir untuk melakukan lockdown seperti yang dilakukan sejumlah negara di dunia.

Menurut Jokowi, kebijakan lockdown merupakan wewenang dari pemerintah Pusat. Kebijakan tersebut tidak boleh diambil oleh pemerintah daerah.

“Saat ini tidak ada kita berpikiran ke arah kebijakan lockdown,” tegas Jokowi dalam keterangan pers di Istana Bogor, Senin (16/3/2020).

Dia menambahkan, ada langkah lain selain lockdown dalam menangkal penyebaran covid-19. Hal tersebut dapat dilakukan dengan sejumlah kegiatan yang sifatnya memutus mata rantai penyebaran virus.

“Yang penting dilakukan bagaimana kita mengurangi mobilitas orang dari satu tempat ke tempat lain, jaga jarak, dan mengurangi keramaian orang yang membawa risiko besar penyebaran covid-19,” ujar Jokowi.

Kebijakan Jokowi yang tidak mau melakukan lockdown menjadi sorotan banyak pihak. Apakah Indonesia tidak siap atau harus menunggu pasien banyak baru melakukan lockdown?

Sumber: pojoksatu.id




Loading...
loading...

Berita Lainnya

Berita Terkini

© Copyright 2019 BERITATERKINI.co | All Right Reserved