Berita Terkini, TEMBILAHAN — Teror monyet liar yang menyerang dan melukai warga di Kecamatan Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau, ternyata tidak hanya menjadi perhatian media nasional. Peristiwa yang telah menyebabkan 18 warga menjadi korban tersebut kini mendapat sorotan media internasional.
Salah satunya adalah Agence France-Presse (AFP), kantor berita internasional yang berbasis di Prancis. AFP memberitakan kasus monyet liar di Tembilahan yang selama sekitar dua pekan menyerang warga secara acak hingga menyebabkan 18 orang mengalami luka akibat gigitan dan cakaran.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (PKP) Kabupaten Inhil, Junaidi Ismail, membenarkan bahwa wartawan AFP telah menghubunginya untuk menggali informasi mengenai rangkaian serangan monyet yang terjadi di Kecamatan Tembilahan.
"Iya, wartawan AFP menghubungi saya terkait kasus teror monyet di Tembilahan," ujar Junaidi kepada media ini, Sabtu (8/8/2026).
Dalam laporan AFP, disebutkan bahwa hingga Jumat (7/8/2026) tercatat 19 kali serangan dengan 18 orang menjadi korban, karena terdapat satu warga yang diserang sebanyak dua kali. Korban termasuk anak-anak dan warga lanjut usia. Beberapa korban bahkan membutuhkan jahitan serta suntikan rabies.
Perhatian AFP tersebut kemudian membuat kasus yang terjadi di Tembilahan menyebar ke berbagai media internasional. Sejumlah media luar negeri turut mengangkat laporan AFP mengenai monyet ekor panjang yang akhirnya berhasil ditangkap setelah meneror warga selama sekitar dua pekan.Kasus Langka Menarik Perhatian Dunia
Munculnya perhatian media internasional dinilai tidak terlepas dari karakter kasus yang terjadi di Tembilahan. Serangan satwa liar terhadap manusia memang bukan hal yang sepenuhnya baru, tetapi jumlah korban yang relatif banyak akibat serangan seekor monyet dalam kurun waktu singkat merupakan peristiwa yang tidak biasa.
Dalam kasus Tembilahan, serangan bahkan menimbulkan dampak terhadap aktivitas masyarakat. Sejumlah sekolah sempat menghentikan pembelajaran tatap muka dan menerapkan pembelajaran dari rumah sebagai langkah antisipasi terhadap keselamatan siswa. Laporan AFP juga menyebut puluhan sekolah masih ditutup pada Jumat (7/8), dengan pembelajaran daring diberlakukan sementara.
Monyet yang diduga menyerang warga akhirnya berhasil ditangkap pada Kamis (6/8/2026). Satwa tersebut kemudian dibawa ke Pekanbaru untuk menjalani pemeriksaan dan observasi oleh pihak konservasi guna mengetahui kondisi kesehatan serta kemungkinan adanya penyakit yang dapat ditularkan.
Kendati seekor monyet telah berhasil diamankan, kekhawatiran belum sepenuhnya berakhir. Sebab, pemerintah setempat masih perlu memastikan apakah serangan yang terjadi benar-benar dilakukan oleh satu ekor monyet atau terdapat satwa lain yang juga berkeliaran di sekitar permukiman.
Kekhawatiran tersebut juga muncul dalam laporan AFP yang mengutip Camat Tembilahan Ari Syuria. Pemerintah daerah meminta masyarakat tetap berhati-hati karena masih terdapat kemungkinan adanya monyet lain yang berpotensi menyerang warga.
Dari Tembilahan ke Panggung Internasional
Masuknya kasus Tembilahan ke dalam pemberitaan AFP menunjukkan bahwa persoalan yang awalnya dianggap sebagai gangguan satwa liar lokal telah berkembang menjadi isu yang menarik perhatian publik internasional.
AFP sendiri merupakan kantor berita internasional yang distribusi beritanya digunakan oleh berbagai media di berbagai negara. Laporan mengenai teror monyet Tembilahan kemudian muncul kembali di sejumlah media luar negeri, antara lain The Straits Times, Malay Mail, Dawn dan sejumlah jaringan media lainnya.
Bagi masyarakat Inhil, sorotan internasional tersebut sekaligus memperlihatkan seriusnya persoalan konflik antara manusia dan satwa liar yang terjadi di kawasan perkotaan.
Kasus ini diharapkan menjadi momentum bagi pemerintah daerah bersama Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau untuk tidak hanya menangani monyet yang telah ditangkap, tetapi juga melakukan pemetaan dan pemantauan terhadap kemungkinan keberadaan satwa liar lainnya di sekitar permukiman warga.
Sebab, persoalan utama bukan sekadar menangkap satu ekor monyet, melainkan memastikan masyarakat Tembilahan dapat kembali merasa aman dari ancaman serangan satwa liar.
Dengan 18 warga telah menjadi korban dan aktivitas pendidikan sempat terganggu, teror monyet Tembilahan kini bukan lagi sekadar cerita lokal. Kasus tersebut telah menjadi perhatian media internasional dan sekaligus menjadi pengingat bahwa konflik manusia dengan satwa liar dapat berubah menjadi persoalan serius ketika terjadi di tengah kawasan permukiman.***(mar)
