Di balik kontestasi Musda, ada kepentingan politik yang jauh lebih panjang. Mereka yang hari ini bertarung untuk posisi Ketua DPD Golkar Inhil tentu tidak hanya menghitung kemenangan organisasi, tetapi juga menghitung peta kekuasaan lima tahun ke depan.
Siapa yang menguasai Golkar Inhil, memiliki posisi strategis untuk membangun struktur, menentukan konsolidasi kader, mengamankan basis suara dan membuka jalan bagi para kandidat legislatif yang sejak sekarang mulai menghitung peluang menuju 2029.
Karena itu, jangan melihat Musda hanya sebagai pertarungan Herman versus Yuliantini atau nama-nama lain yang muncul. Di balik nama kandidat, ada jaringan kepentingan yang lebih besar: siapa yang ingin mempertahankan kursinya, siapa yang ingin merebut kursi baru, dan siapa yang sedang menyiapkan tiket menuju DPR RI.
Musda Golkar Inhil boleh berlangsung hari ini. Tetapi sesungguhnya, pertarungan politiknya sudah mengarah ke 2029.
Pertanyaan terbesarnya bukan lagi siapa menjadi ketua?
Melainkan :
Siapa yang setelah menjadi ketua mampu mengubah Golkar Inhil menjadi mesin pemenangan 2029?
Sebab pada akhirnya, kursi Ketua DPD hanyalah satu kursi. Tetapi dari kursi itulah banyak kursi lain bisa diperebutkan.***